KALAHKAN TA
Berkarya dan berbagi sedekah pengetahuan dalam wujud karya literasi menulis merupakan amal bakti yang mulia. Manfaatnya tidak hanya dinikmati satu generasi namun ilmu yang mengandung pesan dalam karya tersebut dapat diwariskan untuk generasi-generasi selanjutnya.
Upaya mengambil peran menghasilkan karya literasi menulis buku bagi orang yang sudah punya pegalaman tentu tidak ada masalah. Namun bagi penulis pemula seperti saya adalah sebuah tantangan yang sungguh membebani jika harus menulis dan menerbitkan sebuah buku.
Malam ini saya sangat termotivasi dan seolah mendapatkan keringanan untuk mulai menulis saat mendapat ilmu dari seorang narasumber hebat yang hadir dan berbagi tentang "Konsep Buku Non Fiksi". Beliau adalah Musiin, M.Pd, biasa disapa Bu Iin.
Bu Iin adalah alumni kelas menulis Om Jay gelombang 8 yang juga mendapat kesempatan sekaligus tantangan menulis yang diberikan Prof. Eko Indrajit. Bu Iin bersama sembilan temannya yang lain telah berhasil menaklukakan tantangan menulis Prof Eko dan bukunya telah berhasil dipajang di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Buku karya Bu Iin berjudul "Literasi Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi".
Bu Iin telah berhasil mengalahkan ketakutan dari dirinya sendiri. Ketakutan itu merendahkan potensinya untuk menulis. Ketakutan yang selama ini menghantui Bu Iin menulis buku yaitu: "Takut tidak ada yang membaca tulisannya, takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan, bahkan merasa karya orang lain lebih bagus". Ketakutan ini yang sering kali membuatnya konyol dengan hanya duduk berjam-jam di depan laptop, namun tidak menulis apapun.
Jalan menuju sukses berkarya dengan mengalahkan ketakutan akhirnya ditemukan Bu Iin saat singgah di Kelas menulis Om Jay dan bertemu dengan banyak penulis pemula dan pemateri hebat, salah satunya adalah Prof. Eko Indrajit. Dan cahaya untuk berkarya berasal dari dirinya sendiri.
Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki adalah bentuk buku yang ada di dalam diri kita yang belum dikeluarkan. Setiap insan memiliki buku, NAMUN buku tersebut MASIH belum lahir. Berikut sebuah pertanyaan yang sangat menusuk hati kita "IS THERE A BOOK INSIDE YOU?"
Pilihan ada pada diri kita sendiri apakah pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki hanya dikeluarkan dalam bentuk pengajaran di kelas-kelas saja atau hanya dalam bentuk obrolan atau cerita kepada anak cucu saja, yang tidak meninggalkan jejak keabadian. Ataukah hendak dibukukan dan dapat diwariskan turun temurun.
Menulis bukanlah keterampilan yang mudah. Berbagai penelitian bahasa menunjukkan di antara empat keterampilan berbahasa, menulis dianggap paling sulit. Menulis tidak semudah berbicara, semudah bergosip . Justru tantangannya ada karena sulit. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis, membuat resume, menghasilkan buku, maka akan lahir CINTA MENULIS.
Alasan menjadi penulis yang dibagikan Bu Iin adalah sebagai berikut: "untuk mewariskan ilmu lewat buku, ingin punya buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline dan untuk mengembangkan profesi sebagai seorang guru".
Saat diajak Bu Iin kembali topik malam ini tentang buku nonfiksi, Beliau sampaikan bahwa penulisan buku nonfiksi ada 3 pola yakni:
- Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit), contohnya Buku Pelajaran;
- Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses, contoh: Buku Panduan; dan
- Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antar bab setara).
Dalam menulis bukunya yang berjudul Literasi Digital Nusantara Bu Iin menggunakan pola ketiga yakni Pola Klaster. Proses penulisan buku mengikuti langkah-langkah berikut, yakni: Pratulis, Menulis Draf, Merevisi Draf, Menyunting Naskah dan Menerbitkan buku.
PRATULIS
Pada tahap pratulis, seorang penulis melakukan langkah-langkah mulai dari menentukan tema, menemukan ide, merencanakan jenis tulisan, mengumpulkan bahan tulisan, bertukar pikiran, menyusun daftar, melakukan riset, membuat mind mapping dan menyusun kerangka.
Tema dapat ditentukan satu saja dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi adalah parenting, pendidikan, motivasi dan lain-lain. Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya: Pengalaman pribadi, Pengalaman orang lain, Berita di media massa, Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram, Imajinasi, Mengamati lingkungan, Melakukan Perenungan dan Membaca buku.
Sebagai seorang guru, Bu Iin menemukan ide menulis dari literasi digital. Referensinya berasal dari data dan fakta yang ia peroleh dari literasi di internet. Referensi terdiri dari: Pengetahuan yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal; Keterampilan yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal; Pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini; Penemuan yang telah didapatkan dan Pemikiran yang telah direnungkan.
Anotomi Buku
- Halaman Judul
- Halaman Persembahan (OPSIONAL)
- Halaman Daftar Isi
- Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)
- Halaman Prakata
- Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
- Bagian /Bab
- Halaman Lampiran (OPSIONAL)
- Halaman Glosarium
- Halaman Daftar Pustaka
- Halaman Indeks
- Halaman Tentang Penulis
MENULIS DRAF
Setelah menentukan tema dan menemukan ide, langkah berikutnya adalah menulis draf. Dalam menulis naskah, silahkan berekspresi dengan menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas. Tidak usah mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan. Mumpung masih mengalir teruslah mencurahkan seluruh ide hingga naskahnya selesai.
MEREVISI DRAF
Pada tahapan revisi draf, yang dilakkan adalah merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian lalub memeriksa gambaran besar dari naskah.
MENYUNTING NASKAH
Sebagai langkah selanjutnya dari menulis jika naskah yang telah selesai ditulis adalah menyunting naskah. Pedoman yang harus dijadikan acuan dalam tahap ini yaitu KBBI dan PUEBI. Hal-hal yang haru diedit terkait Ejaan, Tata bahasa, Diksi, Data dan fakta, dan Legalitas serta norma. KBBI online menjadi pilihan karena mudah dan sangat membantu penulis dalam menyunting naskah.
Seorang penulis tidak lepas dari hambatan-hambatan dalam menulis pasti ada saja kesulitan yang dialami. Ibarat jalan tidak selamanya mulus dan tidak berlobang. Jika berada di jalan yang mulus pasti mengantuk. Jadi ya harus bertemu dengan aral dan rintangan.
Hambatan-hambatan dalam menulis seperti: waktu yang tidak diatur secara baik, kreativitas yang kurang, hambatan teknis, tujuan menulis yang mengambang maupun hambatan psikologis.
Bu Iin pun memberikan solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan di atas dengan melakukan hal-hal berikut: Banyak membaca, Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber, Disiplin menulis setiap hari, dan pergi ke pasar atau memasak. Ini menjadi mood booster untuk menulis lagi.
Demikian pengalaman seorang praktisi literasi yang mengawali karya menulis dari ketakutan namun jatuh dalam komunitas yang membangkitkannya dari rasa takut hingga menghasilkan karya berkualitas dan bermanfaat bagi banyak orang.
Semoga semangat yang sama tertular bagi saya dan teman-teman dalam kelas ini agar dapat mewujudkan impian menulis dan menerbitkan sebuah buku. Amin
Salam Literasi.

Aamiin. Kita saling tularkan semangat baik bu netty. Resumenya rapi dan informatif. Kereen
ReplyDeleteSaya yakin bu Netty seorang penulis resume yg piyawae, yg hebat mantap 👍👍😊
ReplyDelete