KIAT MENULIS CERITA FIKSI

 


KIAT MENULIS CERITA FIKSI
RESUME KE-13
OLEH: NEHUSTA K. KOY, S.P

Karya literasi menulis sungguh sangat bervariasi coraknya. Ada karya fiksi dan non fisksi. Setiap tulisan baik fiksi maupun tulisan non fiksi selalu menjadi bahan konsumsi bagi penikmat hasil karya literasi untuk menambah pengetahuan, sumber inspirasi atau sebagai hiburan. 

Pada pertemuan ke-13 kelas belajar menulis online bersama PGRI, kami disuguhi materi dengan tema "Kiat Menulis cerita Fiksi". Materi ini disampaikan oleh narasumber bapak Sudomo, S.Pt. Beliau adalah Guru IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat.

Pak Sudomo juga adalah salah satu alumni dari kelas yang sama gelombang 16. Ia telah sukses menulis buku resume dengan gaya cerpen atau  gaya fiksi. Bu Aam biasa menyebutnya "besan" karena mereka memiliki anak seumuran. Beliau selalu menggunakan nama tokoh anaknya, saat membuat tampilan resume yang menggoda.

Mengawali materinya, Pak Sudomo mengisahkan perjalanan karirnya dalam dunia literasi yang mengantarkannya semakin dalam ke dunia menulis fiksi pada saat mengikuti kelas menulis Omjay gelombang 16. Saat membuat tugas resume kelas menulis, ia mencoba berbeda dari yang lain, yaitu menulis resume kelas menulis dengan teknik fiksi

Saat memaparkan materinya Pak Sudomo mengemukaan alasannya mengapa harus belajar menulis cerita fiksi. Bahwa menulis fiksi penting karena menjadi dasar bagi kita sebagai guru agar dapat mempersiapkan siswa menghadapi tes. Oleh karena salah satu materi dalam tes Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)  adalah Teks Literasi Fiksi.

Menulis fiksi juga sebagai cara menemukan passion dalam bidang kepenulisan, sebagai jalan mengeksplorasi kemampuan, bahkan sebagai upaya menyembunyikan dan menyembuhkan diri. 

Alasan lainnya adalah dengan menulis fiksi akan bermanfaat dalam pengembangan profesi kita sebagai guru. Kumpulan cerita fiksi bisa dibukukan sebagai syarat kenaikan pangkat. Novel termasuk kategori karya seni kompleks. Kumpulan cerpen bisa termasuk kategori karya seni sederhana.

Setelah mengetahui alasan menulis fiksi, pertanyaan berikutnya adalah apa syaratnya menulis cerita fiksi? Karya literasi satu ini dengan mudah diwujudkan dengan membangun komitmen,  melakukan riset, membaca karya fiksi, mempelajari KBBI dan PUEBI, memahami dasar menulis fiksi, dan menjaga konsistensi menulis fiksi.

Mari kita mengenal bentuk-bentuk karya fiksi dan cirinya seperti fiksimini hanya beberapa kata saja, flash fiction jumlah kata khusus, pentigraf (cerita tiga paragraf), cerpen jumlah kata kurang dari 7.500, novelet terdiri dari 7.500 sampai 17.500 kata, novela 17.500-40.000 kata, dan novel lebih dari 40.000 kata.

Perbedaan masing-masing karya fiksi terletak pada kompleksitas konflik cerita. Selain batasan jumlah kata, karya fiksi ada juga yang menggunakan batasan paragraf.

Unsur-unsur pembentuk cerita fiksi terdiri dari: tema, premis, alur/plot, penokohan, latar/setting, dan sudut pandang. Secara lebih rinci, unsur-unsur karya fiksi diuraikan sebagai berikut:

  1. Tema,  Ide pokok cerita. Tema yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat penulis, dekat dengan penulis, bahan mudah diperoleh dengan ruang lingkup terbatas.
  2. Premis, ringkasan cerita dalam satu kalimat. Unsurnya ialah karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan dan resolusi
  3. Alur/plot, struktur rangkaian kejadian dalam cerita mulai dari pengenalan cerita, awal konflik, menuju konflik, konflik memuncak/klimaks, penyelesaian/ending. Urutan plot bisa berubah tergantung jenis alur yang dipilih.
  4. Penokohan, dapat bersikap protagonis, antagonis dan tritagonis.
  5. Latar/setting, menggambarkan waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita
  6. Sudut pandang, cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang diwujudkan dalam pandangan tokoh cerita.

Dalam upaya mewujudkan karya menulis cerita fiksi, langkah sederhana yang dapat dilakukan seperti, mulai membangun niat, selalu membaca, menemukan ide dan genre, membuat outline, mulai menulis, melakukan swasunting hingga hasil karya di publikasi. 

Lebih sederhana lagi kiat menulis cerita fiski dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Niat, kiat praktis yang dimulai dengan memotivasi diri lalu menulis hingga menyelesaikan tulisan;
  2. Baca, karya orang lain dapat bermanfaat sebagai bahan referensi, gaya bercerita, dan menambah diksi;
  3. Ide dan Genre, sesegranya mencatat ide yang muncul, mengembangkan imajinasi demi menemukan ide, dan pilihlah genre yang disukai dan dikuasai
  4. Outline, membuat kerangka tulisan berdasarkan unsur-unsur pembentuk cerita fiksi, 
  5. Menulis,  membuka  cerita, mengenalkan tokoh, menguatkan konflik, menggunakan pertimbangan logika cerita, susunan kalimat pendek dan jelas, pilihan kata, teknik show don't tell, dan ending yang baik.
  6. Swasunting, dilakukan setelah selesai menulis, jangan menyunting sambil menulis, fokus penyuntingan pada kesalahan penulisan, ejaan, kata baku, aturan penulisan, dan logika cerita. Selain itu harus kejam pada tulisan sendiri. Terakhir adalah berpegangan pada KBBI dan PUEBI.

Demikian paparan ilmu baru yang sangat padat penuh makna dan menginspirasi dari Pak Sudomo. Materi yang menggugah saya untuk berimajinasi menghasilkan karya literasi cerita fiksi. Semoga jejak para alumni kelas ini dapat kami ikuti dan memperpanjang barisan pegiat literasi yang sukses. 

Salam literasi.


Comments

Post a Comment