MENGATASI WRITER'S BLOCK

 


MENGATASI WRITER'S BLOCK
RESUME KE-9
OLEH: NEHUSTA K. KOY, S.Pd

Memulai acara belajar menulis online bersama PGRI malam ini, kami peserta belajar diajak Bu Mae yang bertindak sebagai moderator untuk berdoa mendahului seluruh rangkaian kegiatan.

Malam ini materi yang disajikan tak kalah pentingnya dengan materi-materi sebelumnya kata Bu Mae. Karena malam ini  materi yang akan dipelajari adalah Mengatasi Writer's Block. Sebuah materi yang merupakan modal dalam membuat tulisan berkualitas.

Hadir sebagai Narasumber malam ini Guru muda cantik nan cerdas asal kota Subang. Sang peraih Penghargaan Bupati Subang (2020), pula peraih Penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang sebagai guru berprestasi (2021). Prestasi literasinya yang membanggakan hingga karyanya yang mampu menembus Penerbit Mayor, memberikan jejak prestasi  literasi yang baik bagi tanah Subang.

Beliau gemilang dengan karya di masa muda yang membahana, semangat literasi yang luarbiasa memikat hati para pembaca. Beliau adalah perempuan  cerdas bernama Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.

Demikian pengantar kuliah malam ini dari moderator yang membuat kami semua penasaran dan tidak sabar untuk segera bertemu dan menerima materi dari narasummber. 

Ketika masuk kelas Bu Ditta memperkenalkan diri sebagai salah seorang guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Selain mengabdi sebagai seorang pendidik, Bu Dita juga aktif berbagi inspirasi melalui Ruang Inspirasi, juga mengelola blog yang diperuntukkan khusus untuk konten pendidikan, yaitu Jendela IPA.  https://jendelaipa.edublogs.org

Awal memberikan materi malam ini Bu Dita mempraktikkan pengalaman yang didapat saat ada dikelas yang sama. Sebagai murid yang berhasil menguasai ilmu dari gurunya (Omjay), Bu Dita membagikan sebuah gambar wayang kulit lalu kami semua ditantang menulis minimal 3 paragraf/bait dari gambar tersebut dalam waktu 15 menit

Semua peserta antusias menerima tantangan tersebut lalu menulis walaupun sampai batas waktu yang ditentukan tidak semuanya mengirimkan hasil tulisannya. Dari tulisan yang masuk di grup ada yang menulis cerpen, ada juga yang menulis dalam bentuk puisi. 

Saya juga sebagai salah satu peserta yang menulis dan mengirim tulisan ke grup. Namun tulisan yang saya kirim tidak sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan. Karena saat menulis saya tidak paham harus memulai dari mana. Ternyata kondisi yang saya alami ini adalah maksud dari tema belajar kami malam ini. 

Apakah ada yang sempat merasa tak punya ide menulis? Sudah menulis tapi kemudian kehilangan kata-kata? Tanya Bu Dita saat melanjutkan kuliah. Dalam hati saya mengaku bahwa saya yang bingung saat hendak menulis tadi.  

Bu Dita melanjutkan bahwa kalau jawabannya ya, bisa jadi kita sedang terserang writer's block. Alias kebuntuan menulis.

Wikipedia mengartikan writer's block sebagai keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya. Sulit fokus, tidak ada inspirasi menulis, menulis lebih lambat dari biasanya, atau merasa stres dan frustasi untuk menulis merupakan sebagian dari tanda-tanda kita terserang WB.

Keadaan ini bisa menimpa penulis pemula maupun profesional. Karena writer's block umumnya tidak disebabkan oleh masalah komitmen/kompetensi menulis.Writer's Block bisa terjadi dalam hitungan menit, jam, hari, bulan, bahkan bertahun-tahun.

Agar bisa mengatasi writer's block, langkah penting yang harus kita lakukan adalah mengetahui penyebabnya. Dengan mengetahui penyebab, kita bisa lebih fokus mencari solusinya.

Bu Dita pun menambahkan bahwa mencoba metode/topik baru dalam menulis bisa jadi salah satu penyebab WB. 

Dicontohkan seperti tantangan buat kami di awal tadi. Tatkala diberikan topik wayang, bagi penikmat seni wayang atau sejarah, mungkin tidak menemui kesulitan berarti saat harus menulis tentang wayang. Tapi orang-orang yang tak pernah melihat pertunjukan wayang? Tidak tahu tentang tokoh-tokoh dalam wayang? Tentu tidak dapat berbuat banyak.

Tak hanya topik baru, metode baru dalam menulis pun bisa membuat kita terserang WB. Misal jika kita terbiasa menulis karya tulis ilmiah. Kemudian diminta membuat puisi. Keduanya tentu memiliki metode penulisan yang berbeda. Bagi yang belum terbiasa, tentu akan mengalami kesulitan saat harus menulisnya.

Dalam mengatasi kasus demikian, cara mengatasinya adalah dengan mempelajari teknik dan banyak berlatih menulis merupakan solusi terbaik untuk meminimalkan dampak WB. Hal lain yang tidak kalah penting seperti teguhkan komitmen, lalu mencari bahan bacaan tambahan, maka WB yang terbentuk bisa segera kita hancurkan.

Ketika penat, beristirahatlah sejenak. Cari ruang dan udara segar. Lakukan hal-hal yang membahagiakan. Refresh kembali hati dan pikiran kita sehingga kita bisa mendapat inspirasi baru.

Kendala lain dalam menemukan ide menulis adalah perfeksioneime. Terlalu perfeksionis pun bisa menjadi penyebab kita sering terkena WB. seperti kata pepatah yang mengatakan "perfectionism kills creativity"Perfeksionis itu bisa mematikan kreativitas.

Ketika seseorang pernah sangat populer dengan tulisannya. Misal postingan di blog yang baca hingga ratusan bahkan ribuan. Menerbitkan buku hingga best seller. Yang seperti ini pun bisa jadi terjebak dalam lingkup perfeksionis.

Tulisan sebelumnya booming, yang sekarang tentu harus booming juga. Harus laku juga. Harus banyak yang baca juga. Kekhawatiran seperti itu justru bisa membuat WB menempel lebih lama pada kita.  Untuk poin terakhir ini Bu Dita ingatkan untuk merefleksi diri alasan awal kita menulis. Tujuan kita menulis. Masa-masa saat kita merintis menjadi seorang penulis. Dengan demikian kita akan terhindar dari perfeksionisme yang mengakibatkan WB. 

Dengan ilmu baru malam ini, saya pun sadar bahwa saya ternyata telah mengalami writer's block selama bertahun-tahun. Satu tekad saya sekarang teguhkan komitmen, tekun menulis. One day one posting. Semoga impian menulis sebuah buku ber-ISBN terwujud. Amiin

Salam Litersi.

Comments

  1. Bagus isinya, rapi juga tulisannya... semangat selalu..

    ReplyDelete
  2. Wah resumenya bagus. Ditata dengan bahasa yang baik. Enak baca hingga akhir.

    Saya doakan semoga bisa konsisten menulis, terhindar dari WB dan segera terwujud bukunya ya, Bu.

    Terima kasih ...

    ReplyDelete

Post a Comment