MENULIS BUKU YANG DI TERIMA DI PENERBIT MAYOR
RESUME KE-12
OLEH : NEHUSTA K. KOY, S.Pd

Assalamualaikum w.w.
Salam sejahtera untuk kita semua
Salam Literasi

Demikianlah kalimat pembuka dari bapak Bambang Purwanto yang malam ini bertindak sebagai moderator dalam kelas menulis online. 

Sebelum mulai, Mr. Bams mempersilahkan kami berdoa sejenak agar diberikan kelancaran dalam pembelajaran malam ini.

Malam ini, kami akan belajar bersama dengan orang hebat di sebuah penerbitan. Beliau adalah bapak Joko Irawan Mumpuni. Pak Joko akan membawakan materi dengan topik "Menjadi Penulis Buku Mayor"

Memulai materinya, Pak Joko sekilas mengisahkan tentang perjalanan kariernya dalam dunia penerbitan dan penulisan. Sudah hampir 20 tahun ia menghidupi dunia penerbitan, penulisan dan aktif di asosiasi penerbit di Indonesia. Hal ini yang membuatnya selalu bersemangat jika diajak berdiskusi seputaran Peberbitan dan penulisan buku.

Sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti sekarang ini; orang hanya mengenal penerbit Mayor dan penerbit Minor. Masing-masing punya pendapat sendiri-sendiri apa yang membedakan penerbit mayor dan penerbit minor. Namun semua pendapat itu merujuk pada satu kesimpulan yang pasti yaitu Jumlah terbitan buku pertahun. Penerbit mayor jauh lebih banyak dibanding penerbit minor. Berapa jumlahnya? masing-masing punya pendapat sendiri.

Mengapa penulis merasa lebih bangga jika karyanya diterbitkan oleh penerbit mayor? Tentunya naskah karyanya akan dikelola lebih profesional, penerbit mayor biasanya punya fasiliatas lebih baik, modal, percetakan, SDM juga jaringan pemasaran yang lebih luas.

Agar karyanya bisa masuk diterima dan diterbitkan oleh penerbit mayor harus melalui seleksi dengan tingkat persaingan yang sangat amat ketat. Pak Joko mencontohkan seperti di Penerbit ANDI, tiap bulan naskah yang masuk bisa sampai 300 hingga 500 naskah dan yang diterbitkan hanya 50 sampai 60 judul saja. Dan sudah tentu sisanya dikembalikan ke penulis atau DITOLAK.

Karena begitu sulitnya menembus penerbit profesional baik yang penerbit minor apalagi penerbit mayor, maka para penulis ada yang menerbitkan karyanya sendiri yang saat ini penerbit seperti ini kita sebut dengan Penerbit Indie.

Naskah buku seperti apa yang bisa diterima dan diterbitkan oleh Penerbit Profesional seperti penerbit ANDI?. Tentunya adalah semua naskah buku yang bisa dijadikan buku lalu laris dijual. Berikut ini adalah pengelompokan buku yang bisa dijual dipasaran:

Di dunia penerbitan buku dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu kelompok buku teks dan kelompok buku non teks. Buku teks adalah buku yang digunakan oleh mahsiswa atau siswa dalam proses pembelajaran. Ditingkat sekolah dasar dan menengah disebut buku pelajaran disingkat BUPEL  sedangkan untuk kelompok mahasiswa disebut buku perguruan tinggi disingkat PERTI.

Buku non teks adalah kebalikan dari buku teks dan cenderung disebut sebagai buku-buku populer karena memang kontennya berupa apa saja yang populer dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Dalam prakteknya pemakaian buku oleh pembacanya tidak lagi terbagi-bagi menurut kelompok-kelompok tadi, apapun buku yang dibaca bisa dijadikan referensi untuk praktek kehidupan sehari-hari maupun dalam rangka mendapatkan jenjang akdemik yang lebih tinggi.

Penerbit adalah lembaga profitable yang mencari keuntungan untuk bertahan hidup dan berkembang sehingga karyawan sejahtera, komsumen puas dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Oleh karena itu Penerbit boleh dikatakan industri. Naskah yang masuk pun akan dianggap sebagai bahan baku output industri, jika bahan baku bagus maka akan menghasilkan produk yang bagus pula. Dengan demikian para penulis dan calon penulis harus paham cara berfikir industri penerbitan agar naskah tidak ditolak.

Secara sederhana ekosistem industri penerbitan  dapat digambarkan alurnya sebagai berikut: Penulis-Penerbit-Penyalur-Pembaca-Penulis

Pertanyaan selanjutnya naskah seperti apa yang bisa diterima penerbit? Adalah naskah yang bisa dijadikan buku dan bukunya laku terjual. Sistem penilaian naskah di penerbitan berdasarkan bobot dapat diuraikan sebagai berikut 

  1. Editorial bobot lebih kurang 10%
  2. Peluang potensi pasar bobot lebih kurang 50% hingga 100%
  3. Keilmuan bobot lebih kurang 30%
  4. Reputasi penulis bobot lebih kurang 10% sampai 100%
Parameter lainya dalam pemilihan naskah di penerbit mayor dengan ukuran popularitas tema tulisan dan penulis itu sendiri. Naskah yang diterima penerbit lalu dikelompokkan menjadi:
  1. Tema tak populer, Penulis tak populer
  2. Tema tak populer, Penulis  populer
  3. Tema populer, Penulis tak populer
  4. Tema populer, Penulis populer

Berdasarkan pengelompokkan di atas, tentu naskah yang langsung diterima untuk diterbitkan yaitu tulisan yang memenuhi kategori 4, tema populer-penulis populer.

Pak Joko memberikan contoh tema populer berdasarkan pencarian dari Google Trend. Berdasarkan data diperoleh informasi bahwa tema tentang batu akik pernah populer dan laku sekitar tahun 2013 sampai 2014. Namun saat ini masyarakat tidak membutuhkan informasi tentang batu akik. Dengan demikian cara mengikuti trend topik yang populer membantu kita sebagai penulis untuk menghasilkan karya yang diterima dan diterbitkan.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam memilih tema seperti tema-tema yang telah mati karena Corona wajib dihindari. Namun ada bidang-bidang baru yang muncul karena corona. Tema-tema yang membahas seputaran bidang ini memiliki peluang laku. 


Tema-tema yang mungkin laku

Setelah tema telah bagus, penerbit akan mengecek REPUTASI penulisnya. Penelusurannya menggunakan Google Schoolar. Penerbit juga membutuhkan seorang penulis yang dalam kategori pengaruh produktivitas dan kualitas seperti IDEALIS dan INDUSTRIALIS.

Jika sebuah naskah telah melalui tahapan seleksi yang ketat, saatnya untuk pencetakan. Dasar sebuah penerbit menentukan jumlah cetakan yang akan dicetak alias oplah mengikuti kwadran kategori naskah berikut ini: 

  1. Market sempit dan Lifecycle pendek
  2. Market sempit dan Lifecycle panjang
  3. Market lebar dan Lifecycle pendek
  4. Market lebar dan Lifecycle panjang

Penerbit akan menentukan oplah tinggi jika buku itu dinilai mempunyai market lebar dan lifesycle panjang. Life cycle panjang artinya buku itu akan tetap relevan dimasa yang akan datang dalam waktu yang panjang.

Seorang penulis yang telah berhasil tidak hanya mendapatkan kebanggaan-kebanggaan saja. Profit bagi seorang penulis sukses ia akan menerima kepuasan, juga reputasi, karier yang semakin baik bahkan  tentunya uang.

Secara rinci apa yang diperoleh penulis dapat diuraikan sebagai brikut:

  1. Peningkatan finansial, seperti royalti, diskon pembelian langsung, seminar/mengajar
  2. Peningkatan karir, adanya kebutuhan peningkatan status jabatan, peluang karir di industri atau perusahaan
  3. Kebutuhan batin, buku sebagai karya monumental yang akan dikenang sepanjang masa
  4. Reputasi, buku sebagai karya yang terpublikasi akan meningkatkan reputasi penulisnya.


Setelah panjang lebar berbagi ilmu tentang menulis naskah yang dapat diterima di penerbit mayor, Pak Joko pun berbagi motivasi dengan mengutip kata-kata penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer seperti "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan  dari sejarah"  dan "Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."

Comments

Post a Comment