MENULIS IBARAT SEBATANG PENSIL


MENULIS IBARAT SEBATANG PENSIL

(Oleh: Nehusta Koy)

Salam sejahtera dan salam sehat untuk kita semua. 
Salam kenal bagi teman-teman peserta Belajar Menulis gelombang 21. Saya Nehusta Koy peserta Belajar Menulis gelombag 20 asal NTT yang belum berhasil menerbitkan buku sehingga saya masih kembali bergabung pada grup Belajar Menulis gelombang 21 ini. Besar harapan saya semoga pada kesempatan ini saya berhasil menerbitkan sebuah buku dari hasil membuat resume.

Sangat senang sekali pada malam ini saya dapat bertemu seorang narasumber yang mengabdi sebagai seorang pendidik di NTT. Guru Cantik Bunda Lilis Sutikno pengasuh mata pelajaran PPKn pada SMPN 2 Nekamese Kabupaten Kupang NTT hadir malam ini dalam grup Belajar Menulis dengan membawakan tema: " Menulis Itu Semudah Ceplok Telor"

Bunda Lilis Sutikno yang biasa di panggil Bu Pipin ditemani oleh pak Dail Ma'ruf sebagai moderator. Mengawali pembelajaran, Pak Dail Ma'ruf mengajak kami berdoa bersama. Usai berdoa, Bunda Lilis lalu dipersilahkan memimpin kelas dengam membagikan materi berupa PPT.

Kata Bunda Lilis, dari kelas ini namanya menjadi besar dan dikenal banyak guru-guru se-Indonesia. KELAS ini telah memberinya inspirasi memberikan tongkat estafet kepada penulis muda berbakat dalam kelas mini di Nusa Tenggara Timur. Kelas bentukan Bunda Lilis bernama KELAS WAG MBI (Kelas Belajar Menulis pasti menjadi buku ber-ISBN).

Hasil dari kelas ini telah terbit banyak buku yang sudah beredar ke seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Mianggas hingga Pulau Rote. Pencapaian ini juga tidak terlepas dari peran besar tokoh literasi, Guru Bloger Indonesia bapak Wijaya Kusumah (Om Jay) yang selalu memotivasi dan terus menginpirasi dengan semangat yang luar biasa lanjut Bunda Lilis.

Sambil menyemangati kami peserta belajar menulis dengan lagu asal Flobamora NTT bunda Lilis mulai mengulas materinya di PPT. Bahwa menulis itu tidak sulit, menulis itu sangat mudah semudah kita membuat ceplok telur. 

Berawal dari "Kalau kamu bukan anak Raja dan bukan anak Ulma Besar, maka menulislah". (Imam Ghozali). Sebuah kutipan yang sangat menarik dan patut direnungkan demikian pesan Bunda Lilis. Walaupun pesannya sederhana namun benar adanya bahwa kalau kita ingin dikenal oleh anak cucu dan banyak orang maka hal yang paling tepat adalah dengan meninggalkan karya berupa tulisan baik itu buku maupun catatan harian di blog dan lainya.

Alasan mengapa orang harus menulis karena diibaratkan ilmu seperti hewan buruan (kijang) yang apabila tidak diikat akan terlepas, begitu pula ilmu apabila tidak ditulis akan hilang atau tidak diingat karena daya ingat manusia terbatas. Pesan ini sebagaimana pernah dituturkan Imam Syafi'i bahwa, "Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja". (Diwan Asy-Syafi'i)

Bunda Lilis juga mengulas kisah sebatang pensil dari Paulo Coelho. 


Bahwa pensil digerakkan oleh tangan manusia. Demikian dalam menulis hendaklah diawali dengan doa karena ada tangah Tuhan yang selalu membimbing kita saat menulis. Tulisan yang dimulai dengan doa, akan menghasilkan ilmu yang berasal dari hati nurani yang bersih. Tulisan yang keluar dari hati akan diterima oleh hati para pembacanya.

Dalam menulis, kita pun sering menemui kesulitan, ada penderitaan dan kesusahan khususnya yang baru pertama kali menulis. Kita perlu menajamkan pikiran kita. Ibarat ketika pensil tumpul harus kita raut dahulu, jika pikiran kita buntu tidak ada ide maka beristirahatlah. Pertajam pikiran dengan bacalah buku yang sesuai dengan tulisan kita. 

Setiap karya kita sebagai manusia tidak sempurna sering terjadi kesalahan namun masih ada kesempatan untuk diperbaiki,  seperti tulisan menggunakan pensil jika salah masih ada penghapus untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Termasuk menulis, kalau ada salah bisa di tipo dulu lalu diperbaiki agar lebih baik dan sempura. Menghapus tulisan tidak berarti tulis-hapus, tulis-hapus. Jika ini yang terjadi maka tulisan kita tidak akan pernah terwujud dalam bentuk buku.

Seperti pensil yang digunakan untuk menulis adalah bagian dalamnya, maka dalam menulis gunakan hati untuk menggerakkan tangan kita. Sebab menulis dari hati akan menghasilkan karya yang luar biasa. Menulis dari hati akan diterima oleh pembacanya dari hati pula.

Belajar dari pensil akan selalu meninggalkan goresan, selalu ada bekas tulisan pensil untuk itu tinggalkan dampak positif dalam hidup kita. Karya paling berkesan dan bermanfaat baik adalah tulisan yang menginpirasi dan mengilhami setiap pembcanya. Maka goreskanlah isi hati yang bersih melalui tulisan yang inspiratif bagi orang lain. 
Salam Literasi, salam sehat.


Comments

Post a Comment